Posted by : ANEKA CRIMINAL Senin, 24 September 2012

amartha studio Meski pada awalnya tidak dianggap, ternyata latar belakang pendidikan membawa pengaruh sangat kuat bagi seseorang dalam menentukan masa depan. Hal itulah dirasakan Achmad Nazilie, mantan karyawan hotel yang kini eksis sebagai perupa.

Dalam perbincangan santai dengan pelukis ini akhir Juli lalu, ia bercerita, saat lulus SMP dan melanjutkan ke sekolah seni rupa, bukan karena bercita-cita ingin jadi pelukis. Melainkan, hanya mencari sekolah yang gampang, tidak disiplin dan apa adanya. Waktu itu, yang penting sekolah dan tidak nganggur. “Ya, hanya sebagai pelarian sajalah,” katanya berterus terang.

Tidak heran, seusai menyelesaikan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Palembang, pada 1993, Nazilie merantau ke Jakarta. Sebagai kaum urban, ia termasuk beruntung. Pasalnya, tak berselang lama tinggal di Ibukota, ia berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah hotel berbintang.  Bahkan, untuk menunjang karir, tahun 2000, ia melanjutkan pendidikan desain grafis di Inter Study, Jakarta.
 Setelah delapan tahun bekerja, tiba-tiba timbul pergolakan dalam batinnya. Rasa seni yang sempat tumbuh saat belajar SMSR menuntut untuk diekspresikan. Ia sendiri mengaku tidak mengerti, mengapa tiba-tiba muncul hasrat untuk melukis. Hasrat itu kian hari terus bertambah besar dan akhirnya tak tertahan lagi. Sementara, pekerjaan di hotel juga butuh perhatian penuh.


Tak pelak, Nazilie berada di persimpangan dan mesti memilih antara melukis atau bekerja. Namun, ia coba bertahan untuk memenuhi keduanya. Tetap bekerja dan juga dapat melukis. Maka sejak  awal 2003, jika libur kerja, ia melukis. Ia juga sering menyambangi Pasar Seni Ancol untuk melihat karya para perupa yang ada di situ. Situasi ini, justru membuat dirinya gelisah dan tidak tenang. Akhirnya, ia tak kuasa lagi membendung jiwa seninya yang berontak. Maka, sejak 2004, ia keluar kerja untuk totalitas menjadi perupa.

“Setelah lima tahun menjadi perupa dan mengalami banyak pergolakan, saya baru menyadari bahwa potensi terbesar dalam hidup saya adalah melukis. Sekarang, kualitas hidup saya jauh lebih baik, dibanding ketika masih bekerja,” ungkap anak kelima dari tujuh bersaudara itu.


Selama menjadi perupa profesional, Nazilie mengaku telah mencoba banyak gaya. Dan, sampai kini, ia masih terus berusaha untuk menemukan ciri khas pada setiap hasil karyanya. Memang, ujarnya, pada era kontemporer sekarang gaya lukisan menjadi tidak penting. Jadi, perupa mesti kreatif menemukan gayanya sendiri.

“Saat ini saya sedang mengembangkan lukisan kartun dengan model transparan. Dan, saya juga menyisipkan simbol-simbol pada setiap lukisan. Misal,  gembok sebagai simbol proteksi atau perlindungan. Batang besi simbol kekuatan. Lukisan transparan ini, akan menjadi ciri khas saya,” papar perupa yang banyak mengangkat tema alam, wanita, kritik sosial dan menyuarakan kaum marjinal dalam setiap lukisannya.


Bila Anda tertarik dengan lukisan-lukisan karya Achmad Nazilie,

Popular Post

About

Blogroll

- Copyright © amartha STUDIO | technology future -3D GIF- Powered by Blogger - Designed by amartha studio -