Posted by : ANEKA CRIMINAL Sabtu, 22 September 2012


amartha studio 1. Siapakah Empu Gandring?
Empu Gandring mempunyai nama asli Kiai Sumelang Gandring. Dia adalah keturunan seorang pembuat keris yang menuntut ilmu sampai ke Jawa Barat. Empu Gandring mempunyai 12 orang murid, dan semuanya memakai sebutan “Gandring” [1]. Bango Samparan, ayah tiri pendiri kerajaan Singosari Ken Angrok (1182 – 1227), menyebutkan bahwa Empu Gandring adalah seorang ahli keris di Tumapel, ibukota kerajaan Singosari (1222 – 1292). Dalam Kitab Pararaton [2], Bango Samparan menyebutkan desa tempat tinggal Empu Gandring yaitu Lulumbang.
2. Di manakah Lulumbang?

Desa Lulumbang dikenal dengan nama Sapih Lumbang. Jika desa Sapih Lumbang ini sama dengan Lumbang jaman sekarang maka letaknya diperkirakan berada 25 km dari Tongas (dekat Probolinggo, Jawa Timur) ke barat daya. Langit Kresna Hariadi [3] menulis:
 Definisi ‘menjelang Bromo’ dapat diartikan sangat dekat dengan gunung Bromo meski kata ini sulit diukur.  Oleh karena itu istilah ‘dua tabuh’ perlu didefinisikan terlebih dahulu. Jika diasumsikan bahwa kecepatan berjalannya kuda menuju ke tempat yang ‘indah’, yang secara relatif diartikan sebagai perbukitan dengan panorama indah, adalah 2 km/jam (karena jalanan menanjak) maka jarak 25 km dapat ditempuh dalam waktu 12.5 jam. Jarak ini adalah jarak antara Tongas dengan Lumbang. Satu tabuh diartikan sebagai penanda fajar hingga tengah hari, dan tengah hari menuju senja, yang masing-masing adalah 6 jam. Perlu diingat bahwa ada dua desa Lumbang, yaitu Lumbang 1 dan Lumbang 2 di wilayah Pasuruan. Lumbang 1 lah yang berjarak 25 km dari Tongas. Lumbang 1 berada dekat dengan Bromo dan lokasinya di mulut pegunungan Tengger, 12 jam dari Tongas.
Interaksi dengan Ken Angrok
Empu Gandring menjadi termasyhur karena pernah berinteraksi secara singkat dengan Ken Angrok. Interaksi ini boleh dikatakan sebagai alasan tak langsung terhadap revolusi berdarah yang memungkinkan terbangunnya kerajaan Singosari. Dialog dalam Kitab Pararaton menyiratkan bahwa Ken Angrok belum pernah mengenal Empu Gandring . Bango Samparan lah yang mengenalkan nama ‘Empu Gandring’ kepada Ken Angrok. Dalam Kitab Pararaton, Bango Samparan (atau terkenal dengan nama Lembong), menceritakan perihal keris buatan Empu Gandring:

Nampaknya reputasi Empu Gandring masih dipertanyakan karena apabila dia adalah ahli keris yang terkenal di wilayah Tumapel, maka Ken Angrok yang kerap kali berkelana di wilayah itu seharusnya mengenalnya. Namun, Ken Angrok baru mengenal nama Empu Gandring dari ayah angkatnya.

Tentang Ken Angrok. 

 Perlu diceritakan di sini siapakah Ken Angrok itu. Ken Angrok dilahirkan di Singosari pada 1182 dari pasangan wanita bernama Ken Endog dan lelaki Brahmin Gajahpura dari Kediri [4]. Suatu versi cerita mengatakan bahwa Ken Angrok tidak mempunyai ayah karena ia adalah titisan Syiwa. Tapi karena Ken Endog malu, maka bayi Ken Angrok diletakkan begitu saja di tanah (kuburan atau tepi sungai). Seorang penjahat bernama Bango Samparan menemukan bayi Ken Angrok karena tangisannya. Ken Endog mendengar Bango Samparan memungut anaknya, ia lantas menemui Bango Samparan. Mereka berdua kemudian membesarkan Ken Angrok.
Satu bukti bahwa Ken Angrok belum mengenal Empu Gandring adalah percakapan mereka yang berkesan formal. Ken Angrok berbahasa sopan terhadap Empu Gandring, dan ini biasa terjadi ketika seorang yang lebih muda bercakap-cakap dengan seorang tua yang dihormati. Kitab Pararaton Bagian 2 menyebutkan kalimat yang dipakai Ken Angrok ketika pertama kali bertemu Empu Gandring:

Ken Angrok, seorang yang percaya bahwa ia adalah titisan Syiwa, berniat menggunakan keris itu untuk membunuh Sang Tunggul Ametung, pembesar Tumapel. Ken Angrok ingin menikahi Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Ken Dedes adalah anak seorang pertapa Buddha bernama Empu Purwo. Ken Dedes diculik dari rumahnya ketika tahu bahwa Empu Purwo sedang pergi bertapa. Alasan Ken Angrok ingin menikahi Ken Dedes adalah birahi semata. Diceritakan bahwa ketika Ken Dedes sedang hamil dan mendampingi Tunggul Ametung mengunjungi suatu desa, Ken Angrok melihat kain yang dipakai Ken Dedes terbuka sehingga nampak betis dan pahanya yang bersinar. Sejak saat itu, Ken Angrok berniat mempersunting Ken Dedes.
Ken Angrok memberikan tenggat waktu lima bulan bagi Empu Gandring. Empu Gandring tak setuju karena ia mengatakan bahwa ia memerlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan keris. Dalam cerita rakyat  yang lain tenggat waktunya adalah 40 hari [5]. Menurut Kitab Pararaton, Empu Gandring menolak permintaan Ken Angrok dengan mengatakan:


Dari percakapan ini, spesifikasi keris yang baik adalah keris yang “matang tempaannya”. Agar tempaan keris matang, ia memerlukan waktu satu tahun.
Dari hasil perhitungan sederhana, cerita dalam Kitab Pararaton cukup masuk akal. Namun lebih telitinya, penulis memperkirakan bahwa keris Empu Gandring dibuat selama maksimum 7 bulan. Bagaimana cara menghitungnya?
Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Ken Dedes sedang hamil ketika Ken Angrok melihatnya untuk pertama kali. Seorang perempuan biasanya nampak jelas hamil ketika kehamilannya menginjak 3-4 bulan. Kehamilan ini nampak lebih jelas apabila tubuh perempuan tersebut cukup ramping. Kitab Pararaton juga menyebutkan bahwa setelah Tunggul Ametung terbunuh oleh keris Empu Gandring, anak Tunggul Ametung – Ken Dedes lahir. Jika kelahirannya normal (misal maksimum 10 bulan), maka lama pembuatan keris maksimum ialah 7 bulan.
y1 = masa kehamilan Ken Dedes hingga melahirkan = 10 bulan (maks)
y2 = bulan kehamilan ketika Ken Angrok melihat Ken Dedes = 3 bulan (kehamilan nampak jelas)
y1 – y2 = 7 bulan
Ada kemungkinan bahwa Kitab Pararaton dibuat dengan teliti sehingga masa pembuatan keris sangat bersesuaian dengan masa kehamilan dan pembunuhan Tunggul Ametung.

4. Terbunuhnya Empu Gandring

Lima bulan berlalu dan Ken Angrok datang lagi mengunjungi Empu Gandring untuk mengambil keris pesanannya. Empu Gandring ternyata belum menyelesaikan kerisnya. Keris itu digambarkan punya hulu kayu cangkring yang masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar. Karena tak sabar, Ken Angrok mengambil keris yang sedang diasah Empu Gandring, lalu menikamkannya ke tubuh Empu Gandring. Keris itu sangat sakti menurut gambaran Kitab Pararaton berikut:

Popular Post

About

Blogroll

- Copyright © amartha STUDIO | technology future -3D GIF- Powered by Blogger - Designed by amartha studio -